“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah,
tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar
dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Diceritakan ada
seorang ulama Suriah acapkali mendawamkan do’a yang selalu dilantunkan. Ia
selalu mengucapkan do’a seperti ini : “Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana
Engkau memberi rezeki kepada bughats”. Apakah yang dimaksud dengan
“Bughats” itu...? seperti apa karunia yang didapatinya?
“Bughats” adalah anak burung gagak yang baru menetas. Burung
gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut
“Bughats”. Ketika sudah besar dia menjadi gagak dewasa, dalam bahasa Arab
diistilahkan dengan “Ghurab”.
Ada
sebuah fenomena menarik yang perlu kita amati dari perjalanan hidup burung ini,
dimana secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan
hitam seperti induknya, karena ketika baru menetas tanpa bulu, kulitnya
berwarna putih. Disaat induknya menyaksikannya, ia tidak terima burung kecil
itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu mengintainya
dari kejauhan saja. Anak burung kecil malang
yang baru keluar dari telurnya itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak
bergerak, apalagi untuk terbang. Lalu
bagaimana ia bisa makan dan minum? Dia tidak mempunyai rezeki, siapa yang
memberinya rezeki? Sebab induknya tidak mau memberi makan, sebab warnanya
putih.
Allah Yang Maha
Kuasa dan Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang
telah menciptakanya. Allah Ta’ala menciptakan bau tertentu yang keluar dari
tubuh anak gagak, yang dengannya dapat mengundang kehadiran serangga ke
sarangnya. Lalu berbagai ulat serta serangga berdatangan sesuai dengan
kebutuhan anak gagak, dan ia pun memakannya. Keadaan terus seperti itu sampai
warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh, ketika itu barulah
gagak mengetahui itu adalah anaknya, ia pun memberi makannya sampai tumbuh
dewasa dan bisa terbang mancari makan sendiri, dan secara otomatis aroma yang
keluar dari tubuhnyapun hilang serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke
sarangnya. Dia-lah Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki. Firman Allah Ta’ala
menegaskan: “Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yang bergerak di atas
bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya” (QS. Huud : 6)
WaAllahu a’lam bisshowab.
Penulis : Ridwan, Lc, M.Pd I
#azzayyan
Bicara tentang
perihal pembagian rezeki hidup makhluk yang hidup di alam raya ini, di mata
seorang hamba yang mengimani adanya ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
pastinya ia meyakini bahwa semua hal tersebut tidaklah berhubungan dengan
adanya ikhtiar semata, melainkan termasuk dalam ruang lingkup rukun iman kepada
Allah Ta’ala dengan takdir dan kehendak-Nya yang Azali. Dalam berbagai
keterangan disebutkan bahwa rezeki setiap makhluk telah ada kepastiannya jauh
hari sebelum ia muncul di alam semesta raya. Mari kita menyimak beberapa
keterangan berikut ini, tentunya bukan untuk sekedar membaca saja, namun wajib
bagi kita semua untuk meyakini. Berikut petikan keterangannya :
Hadist dari
sahabat ‘Ubadah bin Ash-Shamit –semoga Allah Ta’ala meridhoinya-, ia berkata :
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis seluruh
takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan
langit dan bumi,” (HR. Muslim). Dalam sabdanya yang lain: “Yang pertama kali
Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!” ia
bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah
takdir segala sesuatu sampai terjadinya kiamat” (HR. Abu Dawud).
Dalam riwayat
yang lain disebutkan pula adanya sebuah keterangan yang menegaskan bahwa ketika
ruh manusia ditiupkan ke dalam janin seorang ibu yang tengah hamil, tepatnya
ketika menginjak usia empat bulan, di saat yang sama Allah Ta’ala kembali
menegaskan ketetapan kisaran rezeki seorang hamba, bahkan berapa jumlah umur
beserta amalan kebaikan serta keburukan yang kelak akan dilakukannya, terhitung
ketika janin tersebut keluar dan lahir dari perut sang bunda sampai dengan
wafatnya. Ketetapan ini tentunya tidak didasarkan atas kemauan Allah Ta’ala
Yang Maha Kuasa, meski untuk itu Allah Ta’ala berkuasa, melainkan setiap
ketetapan yang telah temaktub, ditulis berdasarkan pengetahuan Allah yang Maha
mengetahui setiap peristiwa yang akan terjadi dalam kehidupan ini, bahkan Allah
Ta’ala Maha Tahu terkait seberapa banyak kenikmatan yang akan diteguk oleh
seorang hamba ketika dimasukkan ke dalam surga-Nya, sebagaimana pula Allah
Ta’ala Maha Tahu terkait batas siksaan seperti apa yang akan menimpa setiap
hamba-Nya ketika masuk neraka-Nya. Semua perkara yang telah ditetapkan-Nya itu
didasarkan atas pengetahuan akan perkara ghaib serta prinsip kemahaadilan Allah
Ta’ala, karenanya setiap manusia diberikan kebebasan seutuhnya untuk merentas
jalan surga atau nerakanya.
Keterangan semua ini bisa kita dapatkan dalam
hadist berikut ini : Hadist dari Abu Abdurahman Abdullah bin Mas’ud –semoga
Allah Ta’ala meridhoinya-, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan
dibenarkan: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut
ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi
setetes darah selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah
selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh
hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan
dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan riskinya,
ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau bahagiannya. Demi Allah yang tidak ada
Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan
ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi
telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka
masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan
perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta
akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli
surga maka masuklah dia ke dalam surga (HR. Bukhori dan Muslim)
Dari semua
keterangan yang termaktub di atas, sungguh tiada layak bagi manusia untuk
menafikan kehadiran Allah Ta’ala dalam setiap rezeki yang dinikmatinya atau
merasa risau berlebih atas kenikmatan yang belum diraihnya, karena sungguh
apapun yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan melesat darinya, dan
apa yang tidak ditakdirkan baginya, tiada mungkin akan mengenainya, demikian
halnya dengan perkara rezeki hidup, berupa kesuksesan jenjang karir, proyek
usaha, dan lainnya. Dalam hadistnya, rosulullah –Sholallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana larinya dia
dari kematian, niscaya rezeki akan mendatanginya sebagaimana kematian akan
mendatanginya” (HR. Abu Nu’aim, dihasankan Syaikh Al-Albani). Dalam keterangan
yang lain disebutkan pula adanya sabda Rasulullah –Sholallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Sesungguhnya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepadaku bahwa
seseorang tidak akan meninggal sampai dengan sempurna seluruh rezekinya.
Ketahuilah, takutlah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah.
Jangan sampai keterlambatan rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat
kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah
kecuali dengan mentaatinya” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
WaAllahu a’lam bisshowab.
Penulis : Ridwan, Lc, M.Pd I
No comments :
Post a Comment