Breaking News

Taubat Ahli Maksiat

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “sesungguhnya aku bertaubat sekarang”. (QS. An-Nissa’ : 18).



Sungguh sahabatku telah berubah, tertawanya renyah lembut menyapa setiap telinga, laksana fajar menyingsing menyambut pagi. Padahal sebelumnya tertawanya sering kali memekakan telinga dan menyakiti perasaan. Kini pandanganya sejuk penuh tawadhu. Sedangkan sebelumnya penuh dengan pandangan destruktif. Ucapan yang keluar dari mulutnya kini penuh dengan perhitungan, padahal sebelumnya sesumbar kesana kemari melukai dan menyakiti hati orang, tidak peduli dan tidak ada beban dosa. Wajahnya tenang diliputi cahaya hidayah setelah sebelumnya terkesan garang dan tidak ada belas kasihan.



Aku tatap wajahnya, dia paham apa yang aku inginkan, lalu ia berkata. “Sepertinya engkau bertanya kepadaku. Apa yang membuatmu berubah?” “Ya, itu yang ingin aku bertanya kepadamu”, tandasku”. Wajahmu yang kulihat beberapa tahun yang lalu berbeda 180 derajat dengan wajah yang kulihat sekarang. “Maha suci Allah yang maha merubah keadaan” katanya penuh rasa syukur. “Hmm…., pasti dibalik semua itu ada kisah menariknya,” komentarku.



“Ya, kisahnya bila kukenang, selalu menambah keimananku kepada Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu, kisahnya melebihi khayalan, namun tetap sebuah kenyatan yang telah merubah arah hidupku, sekarang aku ceritakan semua kisah ini”.



Ketika aku sedang mengendarai mobil menuju Kairo, di salah satu jembatan yang menghubungkan kota tersebut, tiba-tiba seekor sapi dan seorang anak kecil melintas di depanku, aku kaget dan tidak dapat mengendalikan kendaraan. Tanpa sadar mobilku terjun ke sungai, dan aku sudah ada di dalam air. Aku angkat kepalaku ke atas agar bisa bernafas, tetapi mobilku terus tenggelam dan air nyaris memenuhi, tanganku segera menjamah gagang pintu, tapi pintunya terkunci. Saat itu aku merasa akan segera mati,yang terbayang adalah perjalanan hidup yang penuh dengan dosa dan noda.



Segalanya seperti gelap, seperti ada di terowongan yang dalam dan gelap, panik dan mencekam dan batinku berteriak, “Yaa.. Rabb selamatkanlah aku bukan dari kematian yang sebentar lagi akan ku alami, tapi selamatkanlah aku dari segala dosa yang telah melingkupi diriku”. Aku merasa jiwaku seperti melayang dan mohon ampun kepada Allah sebelum menemui-Nya, lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat, aku mulai merasa akan mati.



Aku berusaha menggerakan tanganku untuk menggapai sesuatu, tiba-tiba tanganku menyentuh suatu lubang. Aku ingat lubang tersebut berasal dari kaca bagian depan yang pecah sejak tiga hari lalu. Tanpa pikir panjang lagi aku dorong sekuat tenaga badanku keluar dari kaca bolong tersebut, aku kembali melihat cahaya terang, aku lihat orang-orang menyaksikan dari tepi sungai seraya berteriak keras agar ada salah seorang yang menolongku. Lalu terjunlah dua orang dari mereka ke sungai dan membawaku ke tepinya. Dengan fisik yang lemah lunglai aku masih merasa tidak yakin bisa selamat dan kembali hidup. Dari kejauhan kulihat mobilku perlahan-lahan terbenam ke dalam air.



Sejak detik itu merasa sangat ingin meninggalkan masa laluku yang penuh dengan dosa. Hal itu langsung ku buktikan sesampainya di rumah, langsung ku robek-robek gambar dan poster para selebritis pujaan dan gambar wanita setengah telanjang yang sengaja ku pajang di dinding rumahku. Lalu aku masuk ke kamar dan menghempaskan badanku di atas kasur sambil menangis. Baru pertama kali ini aku merasa menyesal terhadap dosa-dosa yang telah kuperbuat. Semakin keras tangisku dan semakin deras air mataku bercucuran, sementara badanku gemetar. Saat itulah aku mendengar adzan, seakan-akan aku baru mendengarnya pertama kali. Aku langsung bangkit berdiri dan segera bergegas mengambil air wudhu.



Di masjid, setelah aku menunaikan sholat, aku menyatakan taubat dan mohon kepada Allah agar mengampuniku. Sejak itulah sebagaimana yang engkau lihat sekarang wajahku berubah karena taubat.



Aku tertegun mendengar ceritanya lalu aku katakana kepadanya : “Bahagialah engkau hai saudaraku, segala puji bagi Allah atas keselamatanmu, sungguh Allah telah menghendaki kebaikan terhadapmu, Allah akan selalu melindungimu dan menjagamu, serta mengokohkan langkahmu di atas kebenaran”.



WaAllahu a’lam bisshowab.







Penulis : Husein Uwais Mathar



#aazayyan

Read more ...

Rangkuman Komunikasi Massa 3

Media Massa Elektronik dan Film

Kegiatan Belajar 1
Radio Siaran sebagai Media Massa

Radio pertama kali ditemukan oleh Dane (Amerika Serikat) melalui eksperimennya pada tahun 1802. Penemuan itu dikemukakan oleh James Maxwell dan selanjutnya radio digunakan sebagai media komunikasi dalam bentuk siaran (broadcast) oleh David Sarnoff pada tahun 1915. Pada tahun 1916 Dr. Lee De Forest melalui stasiun radio eksperimen miliknya menyiarkan kampanye pemilihan Presiden AS antara Wilson dan Hughes sehingga ia dianggap sebagai pelopor radio dan akhirnya mendapat julukan The Father of Radio.
Selain di negara asalnya Amerika Serikat, radio siaran tumbuh dan berkembang di negara-negara lainnya, termasuk di Indonesia. Radio siaran pertama di Indonesia berdiri pada masa penjajahan Belanda, yakni Bataviase Radio Vereniging pada tahun 1925. Radio siaran yang pertama diselenggarakan oleh bangsa Indonesia adalah Solosche Radio Vereniging di kota Solo pada Tahun 1933 oleh Mangkunegoro VII dan Ir. Sarsito Mangunkusumo.
Pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia, radio siaran mempunyai fungsi memengaruhi dengan memotivasi rakyat untuk bersatu melawan penjajah. Puncaknya, peran radio siaran di Indonesia adalah mengumandangkan naskah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pada masa Orde Baru, radio siaran secara lengkap melaksanakan keempat fungsinya, yakni memberi informasi, menghibur, mendidik dan memengaruhi. Radio siaran mendapat julukan The Fifth Estate karena memiliki berbagai kekuatan, yakni daya langsung, daya tembus, dan daya tarik. Daya langsung karena proses dan penyampaian pesan melalui radio tidak kompleks dan relatif lebih cepat dibandingkan dengan media massa lainnya. Daya tembus karena radio siaran menembus segala rintangan dan dapat menjangkau pendengarnya yang ada di seberang lautan, dihalangi gunung yang tinggi atau pun melewati samudra yang luas. Daya tarik radio siaran adalah kata-kata, musik dan efek suara.
Karakteristik radio siaran merupakan konsekuensi dari sifat radio siaran yang pesannya ditujukan untuk konsumsi telinga, artinya untuk didengarkan (ingat karakteristik komunikasi massa mengenai stimulasi alat indra, Modul 1 Kegiatan Belajar 2). Dengan demikian, karakteristik media radio itu mencakup gaya radio, auditori-pesan diterima secara selintas, pendengar radio bersifat imajinatif, akrab karena seolah-oleh penyiar datang berkunjung ke tempat di mana pun pendengar berada, dan penuturannya menggunakan gaya percakapan.

Kegiatan Belajar 2
Televisi sebagai Media Massa

Televisi siaran ditemukan melalui berbagai eksperimen, dan merupakan pengembangan dari eksperimen sebelumnya, termasuk radio siaran.
Televisi berperan sebagai alat transmisi mulai tahun 1925 di Amerika Serikat, dan berfungsi sebagai media komunikasi massa karena secara reguler menyampaikan pesan pada tahun 1928.
Di Indonesia televisi siaran dengan stasiun call TVRI mulai mengudara tanggal 24 Agustus 1962, pada saat pembukaan Pesta Olahraga se Asia (Asean Games) IV Senayan Jakarta. Tanggal 24 Agustus, selanjutnya dianggap sebagai hari kelahiran TVRI yang kedudukannya berada di bawah Departemen Penerangan. Kini stasiun televisi di Indonesia diramaikan dengan beberapa stasiun swasta, yakni RCTI, SCTV, MetroTV, tvOne, TV7, TransTV, TPI dan ANteve. Meskipun demikian, televisi siaran tidak akan "menggeser" kedudukan radio siaran karena radio siaran memiliki karakteristik yang khas, bahkan di antara keduanya saling mengisi dan saling menunjang.
Fungsi televisi siaran sama seperti media massa lainnya, hanya khalayak pada umumnya menganggap televisi lebih berfungsi sebagai hiburan. Karakteristik televisi yang utama adalah audiovisual, yakni dapat dilihat dan sekaligus dapat didengar, konsekuensinya antara gambar dan suara tidak ada yang lebih dominan, kedua unsur itu harus harmonis dan sama pentingnya. Komunikasi melalui televisi menggunakan peralatan yang lebih banyak serta lebih canggih sehingga untuk mengoperasikannya lebih rumit dan melibatkan jumlah orang yang lebih banyak.
Oleh karena karakteristik itu maka proses penyampaian pesan melalui televisi perlu memperhatikan berbagai faktor, yakni penonton, faktor waktu, durasi dan metode penyajian. Keempat faktor tersebut satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Penonton televisi sebagai komunikan yang heterogen terbagi menjadi beberapa kelompok di mana tiap kelompoknya mempunyai minat dan kebiasaan yang berbeda, termasuk kebiasaannya dalam menonton televisi. Oleh karenanya, acara-acara televisi akan disesuaikan dengan kebiasaan menonton televisi khalayaknya, sedangkan faktor durasi mempertimbangkan kesesuaian naskah dan tujuan yang akan dicapai. Faktor metode penyajian lebih mempertimbangkan sasaran khalayak serta fungsi utama televisi siaran sebagai media hiburan dan informasi.

Kegiatan Belajar 3
Film sebagai Media Massa

The Great Train Robbery dianggap merupakan film cerita pertama yang dibuat di Amerika Serikat pada tahun 1903 dan dibuat oleh Edwin S. Porter.
Sejarah perfilman Amerika mencatat antara tahun 1906 sampai dengan tahun 1916 sebagai periode penting atau disebut pula zamannya Griffith. Selain karena pada masa itu karya-karya David Wark Griffith dibuat, satu diantaranya film berjudul Intolerance memperlihatkan teknik editing yang baik serta jalan cerita yang baik pula, juga pada masa ini ditemukannya pusat perfilman Hollywood. Bahkan film-film komedi yang dibintangi Charlie Chaplin dengan sutradara Mack Sennett dibuat pada masa tersebut.
Sejarah perfilman Indonesia, mencatat film Lely Van Java yang dibuat oleh David di Bandung pada tahun 1926. Selama tahun 1927/1928 dibuat film-film berjudul Eulis Atjih dan tahun 1928/1930 dibuat film-film Lutung Kasarung, Si Conet dan Pareh, yang semuanya merupakan film bisu, sedangkan film bicara yang pertama di Indonesia adalah Terang Bulan yang dibintangi oleh Roekiah dan R. Muchtar.
Sebagaimana radio siaran yang perjalanannya melewati 3 zaman, film juga demikian. Pada awalnya film dikelola oleh orang-orang Belanda dan Cina. Ketika Jepang datang, film diambil alih oleh pemerintah Jepang dan film digunakan sebagai alat propaganda Jepang. Setelah kemerdekaan, film dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia, dan mulailah dibuat Berita Film Indonesia. Pada waktu pemerintahan Indonesia hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta, B.F.I. juga pindah ke Jakarta dan bergabung dengan Perusahaan Film Negara, akhirnya terbentuklah Pusat Film Nasional (P.F.N).
Film di Indonesia tidak semata-mata berfungsi sebagai media hiburan karena pemerintah telah mencanangkan film sebagai alat pendidikan dan pembinaan bagi generasi muda.

Kelebihan film dibandingkan media lainnya, terutama televisi (sejenis) adalah layarnya yang luas, teknik pengambilan gambar, penonton dapat berkonsentrasi penuh, serta identifikasi psikologis. Layar luas memberi keleluasaan penonton melihat adegan demi adegan secara jelas. Di samping itu, gambaran situasi dapat secara utuh ditampilkan karena juru kamera dapat mengambil gambar secara keseluruhan melalui panoramic shot atau extreme long shot. Ruangan kedap suara tanpa penerangan dan terbebas dari gangguan dari luar, telah membantu penonton mencurahkan perhatiannya secara penuh pada film yang ditontonnya. Keadaan demikian, dapat memengaruhi penonton selama film berlangsung, yakni apabila penonton turut merasakan apa yang diperbuat oleh pemain film sehingga seolah-olah dirinya yang sedang main film. Hal itu menurut para ahli ilmu jiwa disebut sebagai identifikasi psikologis. Pengaruh film yang lainnya adalah imitasi, yaitu apabila penonton meniru gaya atau tingkah laku dari pemain dalam film tersebut, misalnya cara berpakaian atau model rambutnya.
Film-film yang biasa kita tonton di bioskop termasuk kategori film cerita (story film), jenis film lainnya adalah film berita, film dokumenter dan film kartun.

Kegiatan Belajar 4
Internet sebagai Media Massa

Secara harfiah, Internet (kependekan dari pada perkataan inter-network) ialah rangkaian komputer yang berhubung menerusi beberapa rangkaian. Jadi, apabila media-media lain, seperti surat kabar, majalah, radio, dan televisi, bentuk fisik medianya tampak jelas, Internet disebut juga sebagai dunia maya karena bentuk fisiknya tidak terlihat langsung melainkan diakses melalui komputer.
Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya Internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari, seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran (decentralization) informasi dan data secara ekstrem.
Perkembangan Internet juga telah memengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka (dan sebagian sangat kecil melalui pos atau telepon), kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui Internet. Transaksi melalui Internet ini dikenal dengan nama e-commerce.
Terkait dengan pemerintahan, Internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government.
Internet disebut juga media massa kontemporer karena memenuhi syarat-syarat sebagai sebuah media massa, antara lain ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim serta melewati media cetak atau elektronik sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat oleh khalayaknya.
Internet mempunyai kelebihan dibandingkan media lainnya karena selain berfungsi sebagai media massa, Internet juga bisa berfungsi sebagai media komunikasi antarpersona melalui chatting dan e-mail.
Untuk sekadar mendapatkan informasi, pengguna Internet cukup melakukan chatting, gabung di mailing list, menelusur ensiklopedia gratis di Wikipedia, menelisik peta gratis dari Google Map, mendengar musik dan komedi/film di Myspace, curhat dan cari teman baru di Friendster, baca berita di Ohmy News, main games interaktif di Yahoo! Juga bisa mengutak-atik blog yang disediakan gratis oleh Blogspot.com, Blogsome.com atau Blogdrive.com, bahkan mendengar radio atau menonton televisi digital.
Bagi Shayne Bowman dan Chris Willis, internet telah menjadi saluran perubahan, percepatan, perluasan, sekaligus perputaran gagasan. Dan Gilmor, penulis buku We the Media dalam jurnal yang sama mengatakan, perpaduan antara jurnalisme dan teknologi memungkinkan percakapan sebagai berita, yakni percakapan dari, untuk, dan oleh khalayak.



Efek Komunikasi Massa

Kegiatan Belajar 1
Efek Kehadiran Media Massa terhadap Khalayak

Komunikasi merupakan suatu kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Akan tetapi, untuk mengetahui secara jelas tentang kekuatan sosial yang dimiliki oleh media massa dan hasil yang dicapainya dalam menggerakkan proses sosial tersebut tidaklah mudah. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian terhadap hasil atau efek yang dicapai oleh pernyataan manusia yang telah dilakukan melalui berbagai media massa. Pengkajian hasil proses sosial tersebut dapat melalui metode yang bersifat analisis psikologi sosial. Sebagai akibat dari suatu proses komunikasi, efek atau akibat dapat menerpa seseorang baik secara disengaja maupun tanpa disengaja. Donald K. Robert beranggapan bahwa efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa media massa. Oleh karena itu, Steven H. Chaffee menyebutkan adanya lima jenis efek atas kehadiran media massa sebagai benda fisik, yaitu (1) efek ekonomis; (2) efek sosial; (3) efek pada penjadwalan kegiatan; (4) efek penyaluran/penghilangan perasaan tertentu, dan (5) efek dan perasaan orang terhadap media.

Kegiatan Belajar 2
Efek Pesan Media Massa terhadap Khalayak

Studi tentang komunikasi massa pada umumnya membahas tentang efek. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para praktisi dan teoretisi telah menghasilkan penemuan tentang media yang paling efektif untuk memengaruhi khalayak. Oleh karena itu, efek pesan media massa terhadap khalayak dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu efek kognitif, efek afektif dan efek behavioral.
Efek kognitif adalah perubahan yang terjadi pada khalayak dari tidak tahu menjadi tahu. Efek afektif, yaitu suatu perubahan yang terjadi yang meliputi perasaan senang, iba, sedih, gembira dan seterusnya, sedangkan efek behavioral adalah perubahan perilaku pada khalayak yang berupa tindakan atau gerakan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Modul 9: Media Massa dan Sistem Pemerintahan serta Teori-teori Komunikasi Massa


Kegiatan Belajar 1
Media Massa dan Sistem Pemerintahan

Suatu sistem media massa akan mencerminkan falsafah dan sistem politik negara di mana media massa tersebut berada (berfungsi). Hal demikian karena falsafah dan sistem politik amat berpengaruh pada sistem lainnya, termasuk sistem komunikasi dan media massa.
Fred S. Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm mempelajari dimensi sejarah pertumbuhan dan perkembangan pers dunia, dan pada akhirnya mereka dapat mengelompokkan empat macam teori pers, yang mencerminkan keadaan masyarakat dan dasar pemikiran yang hidup dalam masyarakat ketika itu. Keempat teori pers itu adalah Authoritarian theory, Libertarian theory, Social Responsibility theory dan Soviet Totalitarian theory.
Media massa menurut authoritarian theory merupakan sarana yang efektif bagi kebijakan pemerintah, meski tidak harus dimiliki oleh pemerintah. Menurut libertarian theory, media massa merupakan alat untuk mengontrol pemerintah dan untuk memenuhi keperluan masyarakat. Dalam social responsibility theory, media massa harus memenuhi kewajiban sosialnya jika ingkar, masyarakat akan membuat media tersebut mematuhinya, sedangkan pada soviet totalitarian, media benar-benar menjadi alat negara sehingga pemerintah melakukan kontrol yang ketat terhadap media massa.
Sistem pers Indonesia tidak dapat dikelompokkan kepada empat teori pers tersebut. Sistem pers Indonesia adalah pers Pancasila karena berlandaskan pada falsafah Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945.

Kegiatan Belajar 2
Beberapa Teori Komunikasi Massa

Studi tentang komunikasi massa pada umumnya memberikan wawasan yang cukup luas mengenai bagaimana efek media massa terhadap masyarakat. Pada umumnya aplikasi komunikasi massa adalah berkaitan dengan proses difusi inovasi. Kondisi-kondisi perubahan sosial dan teknologi dalam masyarakat melahirkan kebutuhan yang dapat menggantikan metode lama ke metode baru. Masalah penelitian yang berhubungan dengan difusi inovasi dalam komunitas, yaitu taraf penerimaan inovasi oleh berbagai individu yang relevan dengan inovasi. Selain teori difusi inovasi, teori uses and gratifications menjelaskan suatu proses, di mana kondisi sosial psikologis seseorang akan menyebabkan adanya kebutuhan yang menciptakan harapan-harapan terhadap media massa atau sumber-sumber lain yang membawa kepada perbedaan pola penggunaan media yang akhirnya akan menghasilkan pemenuhan.
Agenda setting menjelaskan bahwa media menyusun prioritas topik yang akan memengaruhi perhatian audience terhadap topik yang dianggap lebih penting dari topik lainnya. Dengan kata lain, dalam menyusun agenda pemberitaannya, media akan memengaruhi agenda khalayaknya meskipun hanya sampai pada tahap kognitif, sedangkan teori kultivasi berpendapat bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan.




Read more ...

Rangkuman Komunikasi Massa 2

Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Massa

Kegiatan Belajar 1
Hambatan Psikologis

Setiap bentuk kegiatan komunikasi akan meng¬hadapi berbagai hambatan. Hambatan pada komu¬nikasi massa relatif lebih kompleks sejalan dengan kompleksitas komponen¬-komponen komuni¬kasi yang terlibat dalam proses komunikasi massa. Hambatan komunikasi massa yang berupa hambatan psikologis mencakup kepentingan, prasangka dan motivasi. Kepentingan komunikan yang berbeda¬-beda dapat dianggap sebagai ham¬batan komunikasi karena kepentingan akan memengaruhi respons komunikan terhadap pesan komunikasi. Begitu pula dengan hambatan yang berupa motivasi karena motivasi akan memengaruhi intensitas tanggapan komunikan terha¬dap pesan komunikasi, sedangkan prasangka dianggap sebagai hambatan komunikasi karena telah menyebabkan komunikan menanggapi pesan komunikasi secara emosional, komunikan tidak berpikir rasional dan objektif. Subjektivitas pada prasangka sosial ini telah dipertajam oleh stereotip yang dipercayainya mengenai diri komunikator.

Kegiatan Belajar 2
Hambatan Sosiokultural

Keragaman etnik dan budaya, ratusan bahasa yang hidup dan berkembang di Indonesia, serta dua ratus dua puluh juta penduduk merupakan aset bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Namun, di sisi lain faktor¬-faktor tersebut dapat menjadi penghambat dalam proses komunikasi massa. Perbedaan budaya telah memungkinkan adanya perbedaan norma sosial. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian komunikator dalam menyampaikan pesannya, agar terhindar dari ketersinggungan komunikan sebagai akibat dari perbedaan norma sosial. Hidup dan berkembangnya bahasa daerah pada masing-masing etnik, telah menyebabkan sejumlah besar penduduk di daerah terpencil tidak bisa berbahasa Indonesia kalaupun bisa¬ kemampuannya amat minim. Kondisi ini juga menjadi hambatan komunikasi massa karena mereka sulit menerima pesan dalam bahasa Indonesia.
Keragaman bahasa, telah memungkinkan adanya perbedaan pemberian makna terhadap kata¬-kata yang sama. Hal ini disebut hambatan semantis. Di samping ketidakmampuan berbahasa Indonesia, masyarakat di desa-¬desa terpencil pun berpendidikan sangat rendah sehingga mungkin masih ada yang belum melek huruf. Ini pun menjadi hambatan komunikasi massa, sedangkan hambatan yang relatif sering terjadi dalam proses komunikasi massa adalah hambatan meka¬nis, yakni gangguan sebagai konsekuensi penggunaan alat¬-alat teknis, seperti gangguan cuaca, dan sejenisnya yang dapat menyebabkan pesan tidak dapat diterima baik oleh komunikan.

Kegiatan Belajar 3
Hambatan Interaksi Verbal

Hambatan interaksi verbal yang dikemukakan oleh Joseph A. Devito merupakan jenis hambatan yang pada umumnya terjadi pada komunikasi antarpersona yang tatap muka. Dari 7 hambatan yang dikemu¬kakannya, 4 diantaranya dapat pula terjadi pa¬da komunikasi massa, yakni polarisasi, orientasi intensional, evaluasi statis, dan indiskriminasi. Polarisasi sebagai hambatan, apabila komunikator atau komunikan mempunyai kecenderungan untuk meli¬hat segala sesuatu dalam bentuk lawan kata dan mendeskripsikannya secara ekstrem, misalnya sangat baik atau sangat buruk, sangat kaya atau sangat miskin. Sementara kenyataan yang ada, lebih banyak manusia dan keadaan yang berada di antara kedua ku¬tub itu.
Hambatan komunikasi massa yang berupa orientasi intensional adalah apabila kita mempunyai kecende¬rungan untuk melihat manusia, objek dan kejadian sesuai dengan ciri yang melekat pada mereka. Jadi, seolah¬-olah label lebih penting dari manusia itu sendiri. Kebiasaan lain dari manusia pada umumnya adalah merumuskan pernyataan verbal tentang suatu kejadi¬an atau seseorang yang bersifat statis ¬ tidak berubah. Sementara, objek atau orang dari waktu ke waktu kemungkinan besar berubah. Apabila kita se¬bagai komunikan melakukan evaluasi statis terhadap komunikator tertentu, selamanya kita tidak akan pernah mau menerima komunikator yang bersangkutan, sedangkan ia kemungkinan besar telah berubah. Indiskriminasi sebagai hambatan komunikasi massa pada dasarnya relatif sama dengan hambatan stereotip karena indiskriminasi adalah inti dari stereotip.


Fungsi Komunikasi Massa

Kegiatan Belajar 1
Fungsi Komunikasi Massa secara Umum

Fungsi komunikasi massa atau fungsi dari media massa dilihat dari perspektif secara universal (umum) yang meliputi fungsi memberi informasi; memberi pendidikan (to educated), memberi hiburan (to entertain) dan memengaruhi (to influence). Selain fungsi-fungsi tersebut Robert G. King dalam bukunya Fundamental of Communication mengemukakan fungsi-fungsi komunikasi, yaitu untuk membangun proses mental, untuk beradaptasi dengan lingkungan dan fungsi untuk memanipulasi lingkungan.

Kegiatan Belajar 2
Fungsi Komunikasi Massa secara Khusus

Fungsi komunikasi massa secara khusus, mempunyai fungsi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Fungsi yang pertama adalah untuk meyakinkan. Fungsi ini dapat dibentuk melalui pengukuhan atau memperkuat sikap atau nilai seseorang, mengubah sikap, menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu serta memperkenalkan etika atau menawarkan sistem nilai tertentu. Fungsi komunikasi massa yang lain adalah fungsi menganugerahkan status, yaitu fungsi yang dapat menganugerahkan status publik terhadap orang-orang tertentu, sedangkan fungsi membius, merupakan fungsi yang sangat menarik karena khalayak seolah-olah tidak berdaya dalam menerima pesan-pesan yang disampaikan oleh media.
Fungsi komunikasi massa sebagai alat untuk menciptakan rasa kebersamaan, yaitu kemampuan media massa membuat khalayak menjadi anggota suatu kelompok dan merupakan fungsi yang terakhir dari komunikasi massa, yaitu privatisasi, sebagai suatu kecenderungan bagi seseorang untuk menarik diri dari kelompok sosial dan mengucilkan diri ke dalam dunia sendiri.


Media Massa Cetak

Kegiatan Belajar 1
Surat Kabar sebagai Media Massa

Surat kabar sebagai media cetak dimulai sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg pada tahun 1600-an. Di Jerman, surat kabar pertama terbit di Bremen tahun 1609. Di Inggris, Oxford Gazette merupakan surat kabar pertama yang diterbitkan tahun 1665, sedangkan surat kabar hariannya adalah Daily Courant yang terbit tahun 1702.
Di Amerika Serikat, surat kabar harian yang pertama adalah Pennsylvania Evening Post terbit tahun 1783. Dalam perkembangannya, surat kabar di Amerika mudah didapat dan murah, sebagai contoh harian New York Sun hanya enam sen dolar sehingga masa itu dunia persuratkabaran disebut era The Penny Press, sedangkan masa kejayaannya yang disebut Newspaper Barons adalah di saat Joseph Pulitzer menerbitkan St Louis Post-Dispatch dan membeli New York World sehingga oplag-nya dan memperoleh jumlah pembaca sebanyak 374.000 orang. Di saat itu pula Pulitzer memelopori pemuatan cerita bergambar (komik strip) secara rutin pada edisi minggunya.
Dunia persuratkabaran di Indonesia mengalami 5 zaman, yakni zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, awal kemerdekaan, zaman Orde Lama dan Orde Baru. Pada zaman Belanda, surat kabar di Indonesia secara politis kurang berarti karena isinya hanya memuat kutipan-kutipan berita dari harian di Eropa dan sebagian besar berupa iklan lelang. Sekalipun terdapat surat kabar berbahasa Melayu, isinya tetap dalam pengawasan pemerintah Belanda. Begitu pula pada zaman Jepang, penggabungan beberapa surat kabar telah memudahkan pemerintah Jepang dalam melakukan pengawasan. Di samping itu, surat kabar lebih ditekankan pada propaganda memuji-muji pemerintah dan tentara Jepang.
Menjelang Indonesia merdeka, surat kabar yang diusahakan rakyat Indonesia merupakan tandingan surat kabar Jepang dan di awal kemerdekaan, surat kabar di Indonesia mengalami masa kebebasan. Namun, tidak lama kemudian, yakni zaman Orla, surat kabar diharuskan mempunyai cantolan pada partai tertentu dan isi surat kabar sering berupa polemik antara yang pro PKI dan yang kontra PKI. Pada awal pemerintahan Orde Baru, kehidupan surat kabar kembali marak dengan terbitnya surat kabar Kompas dan KAMI yang dianggap berani. Selanjutnya, grafik menurun karena pemerintah Orde Baru menganggap kebebasan surat kabar kurang bertanggung jawab karena tidak mengindahkan sopan santun lagi sehingga pemerintah melakukan pencabutan SIUPP beberapa surat kabar dan majalah.
Satu hal yang penting untuk dicatat bahwa dalam masa pembangunan Indonesia, surat kabar mengemban misi menyebarluaskan pesan-pesan pembangunan dan sebagai media untuk mencerdaskan bangsa.
Sebagai media massa cetak, surat kabar memiliki beberapa karakteristik, yaitu (1) publisitas, (2) periodisitas, (3) Aktualitas, (4) universalitas, (5) terdokumentasikan. Selain itu, persyaratan dari komunikannya adalah harus melek huruf.

Kegiatan Belajar 2
Majalah sebagai Media Massa

Tidak lama setelah manusia mengenal surat kabar sebagai media massa, manusia membuat media cetak lainnya, namun dengan bentuk yang berbeda dan masa terbit yang berbeda pula - itulah yang kita sebut sebagai majalah.
Di Inggris, Daniel Defoe (1704) menerbitkan majalah Review yang terdiri empat halaman kecil, dan berisi berita, artikel, kebijakan nasional pemerintah. Di Amerika Benjamin Franklin (1740) menerbitkan General Magazine dan Historical Chronicle. Antara tahun 1820 - 1840-an di Amerika banyak majalah yang terbit sehingga pada masa itu dinamakan The Age of Magazine. Majalah yang terkenal saat itu adalah Saturday Evening Post dan North American Review. Pada pertengahan abad ke-19 majalah yang peredarannya luas hampir di seluruh dunia adalah Reader Digest yang diterbitkan oleh suami istri DeWitt & Lila.
Sementara di Indonesia, majalah mengalami zaman keemasan pada tahun 70-an sampai 80-an, di mana pada masa itu banyak majalah terbit dan bervariasi hampir dapat memenuhi semua kalangan. Diantaranya, majalah berita mingguan Tempo, majalah Femina (wanita), Si Kuncung & Bobo (anak-anak), National Geographic (ilmiah populer), dan lain-lain.
Seperti halnya media massa lainnya, majalah memiliki empat fungsi, yakni memberi informasi, mendidik, menghibur dan memengaruhi. Namun, masing-masing majalah mempunyai fungsi utama yang berbeda tergantung pada tipe majalah tersebut. Majalah berita mempunyai fungsi utama memberi informasi, majalah ilmiah mempunyai fungsi utama mendidik atau memengaruhi. Majalah anak, dan wanita mempunyai fungsi utama memberi hiburan.
Karakteristik majalah sebagai media massa adalah (1) berita disajikan secara mendalam; (2) nilai aktualitas lebih lama sesuai dengan frekuensi terbitnya; (3) lebih banyak menampilkan foto; (4) cover atau sampul majalah sebagai daya tarik utama.


Read more ...

Rangkuman Komunikasi Massa



a. Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik media cetak (Surat Kabar, Majalah) atau media elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada khayak luas di berbagai tempat.

b. Karakteristik Komunikasi Massa menurut para pakar komunikasi :
1.      Komunikator Melembaga (Institutionalized Communicator) atau Komunikator Kolektif (Collective Communicator) karena media massa adalah lembaga sosial, bukan orang per orang.
2.      Pesan bersifat umum, universal, dan ditujukan kepada orang banyak.
3.      Menimbulkan keserempakan (simultaneous) dan keserentakan (instantaneos) penerimaan oleh massa.
4.      Komunikan bersifat anonim dan heterogen, tidak saling kenal dan terdiri dari pribadi-pribadi dengan berbagai karakter, beragam latar belakang sosial, budaya, agama, usia, dan pendidikan.
5.      Berlangsung satu arah (one way traffic communication).
6.      Umpan Balik Tertunda (Delayed Feedback) atau Tidak Langsung (Indirect Feedback); respon audience atau pembaca tidak langsung diketahui seperti pada komunikasi antarpribadi.

c. Pernyataan pernyataan dari Para Ahli
1. Aubrey Fisher
Model adalah analogi/perumapamaan yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat, atau komponen yang penting dari fenomena untuk dijadikan model/contoh.
2. Menurut Severin
Model membantu merumuskan teori dan menyarankan hubungan hubungan.
3. Menurut Deusch
Fungsi model yaitu :
•         Mengorganisasikan (kemiripan data dan hubungan yang tadinya tidak teramati)
•         Heuristik, yaitu menunjukkan fakta dan data yang tidak diketahui..
•         Prediktif, yaitu memungkinkan ramalan
•         Pengukuran, yaitu mengukur fenomena yang diprediksi
4. Gorden Wiseman & Larry Baker
Model komunikasi memiliki 3 fungsi yaitu :
•         Melukiskan proses komunikasi
•         Menunjukkan hubungan visual
•         Membantu dalam menghubungkan atau memperbaiki kemacetan komunikasi

d. Model Model Komunikasi Massa
1. S-R THEORY (Stimulus – Response)
Disini Komunikasi dipandang sebagai suatu aksi dan reaksi. Asumsi : Teori S-R mirip dengan “ HYPODERMIC NEEDLE “, yaitu pesan media langsung menghasilkan respon audiens, namun dalam perkembangan risetnya, teori S-R telah mengalami perubahan, stimulus dari media tidak secara langsung mempengaruhi respon audiens, namun stimulus media itu menerpa Organisme dulu baru kemudian mempengaruhi respon audiens.

2. Aristoteles ( Speaker - Massage – Listener)
Biasa disebut juga dengan Rethoric Approach

3. Lasswell’s Model (Model Lasswell)
(Who – Say What- to whom – In which channel –With what effect)
Teori komunikasi yang dianggap paling awal (1948). Lasswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who says in which channel to whom with what effect (Siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik : Lasswell itu merupakan unsur-unsur proses komunikasi yaitu Communicator (komunikator), Message (pesan), Media (media), Receiver (komunikan/penerima), dan Effeck (efek).

4. The Mathematical Theory of Communication (Teori Matematika Komuikasi)
( Source – Transmitter ? Receiver – Destination )
Teori matematikal ini acapkali disebut model Shannon dan Weaver, oleh karena teori komunikasi manusia yang muncul pada tahun 1949, merupakan perpaduan dari gagasan Claude E. Shannon dan Warren Eaver. Shannon pada tahun 1948 mengetengahkan teori matematik dalam komunikasi permesinan (engineering communication), yang kemudian bersama Warren pada tahun 1949 diterapkan pada proses komunikasi manusia (human communication). Asumsi teori ini adalah sumber informasi (information source) memproduksi sebuah (message) untuk dikomunikasikan. Pesan tersebut dapat terdiri dari kata-kata lisan atau tulisan, musik, gambar, dan lain-lain. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi isyarat (signal) yang sesuai bagi saluran yang akan dipergunakan. Saluran (channel) adalah media yang menyalurkan isyarat dari pemancar kepada penerima (receiver). Dalam percakapan sumber informasi adalah benak (brain), pemancar adalah mekanisme suara yang menghasilkan isyarat, saluran (channel) adalah udara.

5. Schram Wellburg,
khalayak dianggap memiliki tingkat selektifitas bila diterpa suatu media dan tingkat selektifitas itu berdasarkan field of experiencenya. Di dalam teori ini, Field of experience dari khalayak sangat mempengaruhi efek atau response yang akan disampaikan khalayaknya.

6. Newcomb’ABX Model (Model ABX Newcomb)
Pendekatan komunikasi yang berdasarkan pada pendekatan seorang pakar psikolog sosial berkaitan dengan interaksi manusia. Dalam bentuk yang paling sederhana dari kegiatan komunikasi seseorang A menyampaikan informasi kepada orang lain B mengenai sesuatu X. Model ini menyatakan bahwa orientasi A (sikap) terhadap B dan terhadap X adalah saling bergantung dan ketiganya membentuk sistem yang meliputi empat orientasi.
Seperti dikutip Effendy (2003) menurut Severin dan Tankard (1992) pada model newcomb ini komunikasi merupakan cara yang biasa dan efektif dimana orang-orang mengorientasikan dirinya terhadap lingkungannya.

e. Teori Teori Dalam Komunikasi
1. Innoculation Theory (Teori Inokulasi)
Teori inokulasi atau teori jarum suntik yang pada mulanya ditampilkan oleh Mcguire ini mengambil analogi dari peristiwa medis. Orang yang terserang penyakit cacar, polio disuntik. Diberi vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya. Demikian pula halnya dengan orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal atau tidak menyadari posisi mengenai hal tersebut, maka ia akan lebih mudah untuk dipersuasi atau dibujuk. Suatu cara untuk membuatnya agar tidak mudah kena pengaruh adalah ”menyuntiknya” dengan argumentasi balasan (counterarguments).

2. Individual Different Theory
Asumsi : Pesan yang disampaikan media sebenarnya diterima secara berbeda-beda oleh audiens, karena tiap audiens adalah otonom. Ia mampu secara mandiri memproses, menyeleksi dan mempersepsi pesan media sesuai dengan system referensinya, tiap individu memiliki kemampuan untuk memaknai pesan media sesuai pengetahuanya.
Di dalam teori ini menjelaskan bahwa pesan dalam komunikasi massa membawa dampak yang berbeda beda pada tiap individu sesuai dengan latar belakang pendidikan, culture, dll dari individu tersebut. Jadi, individu lebih selektif dalam memilih pesan yang mereka terima/ tolak.

3. Teori Kategori Sosial
Teori ini menjelaskan bahwa dalam suatu masyarakat walaupun heterogen,  tapi ada dalam hal hal tertentu mereka memiliki kesamaan sehingga membentuk kategori kategori tertentu (kelompok khusus). Kategori ini bisa berdasarkan usia, gender, profesi, dll. Teori ini berangkat dari model komunikasi S – R (resposn dari individu, kategiri sosial, dll).

4. Social Relationship Theory
Sebuah pesan media massa dapat sampai ke khalayaj melalui perantara tertentu, sperti opinion leader (kepala desa). Tidak harus langsung ke khalayak, tapi melalui tahap tertentu, yaitu perantara perantara sehingga terbentuk hubungan antara mereka dan pesan pun akan mudah tersampaikan. Karena ada khalayak yang tidak suka membaca koran atau menonton televisi. Teori ini berangkat dari two step flow or multi step communication model.  Jadi pesan sampai ke khalayak melalui perantara dalam hubungan sosial.

5. Cultural Norm Theory
Efek dari pesan di media massa seringkali mampu mempengaruhi norma norma yang ada di masyarat. Proses nya yaitu ada tiga :
a. memperkuat norma yang ada
b. Memodifikasi/mengubah norma lama
c. menciptakan norma yang baru

6. Uses And Gratifications (Kegunaan Dan Kepuasan)
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kebutuhan (bahasa Inggris: Uses and Gratification Theory) adalah salah satu teori komunikasi dimana titik-berat penelitian dilakukan pada pemirsa sebagai penentu pemilihan pesan dan media. Pemirsa dilihat sebagai individu aktif dan memiliki tujuan, mereka bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau tidak menggunakan media dan memilih cara lain.

7. Teori Agenda Setting
Setting didasari oleh asumsi demikian. Teori ini sendiri dicetuskan oleh Profesor Jurnalisme Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Jadi bisa dikatakan apa yang yang menjadi agenda media juga menjadi agenda masyarakat.

8. Teori Dependency
Dependency Theory menjelaskan kekompatibelan mengenai argumentasi limited-effects dan powerful-effect dari media. Titik sentral dari teori atau pendekatan ini adalah adanya audiens yang bergantung kepada informasi media untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan dan mencapai tujuan-tujuannya. Dengan demikian maka pendekatan ini masih konsisten dengan pendekatan model uses and gratifications. Tidak semuanya cocok memang jika dikaitkan pada kondisi masyarakat di jaman sekarang, terutama di Indonesia. Juga tidak semua aspek informasi sajian dari media massa yang sanggup mempengaruhi secara kuat sehingga audiens menjadi tergantung kepada media dimaksud. Dikaitkan dengan usia seseorang, misalnya, kekuatan media juga semakin berkurang. Hal ini bisa dilihat dari semakin kurangnya kelompok usia lanjut yang membaca dan menonton televisi. Bahkan beberapa orang tertentu di desa-desa, meskipun ada televisi di rumahnya, para orang tua tidak tertarik untuk menontonnya.

9. Teori Difusi Inovasi
Model teori difusi inovasi digunakan untuk pendekatan dalam komunikasi pembangunan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia atau dunia ketiga. Tokohnya Everett M. Rogers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu dari para anggota suatu sistem sosial. Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan - pesan sebagai ide baru, sedangkan komunikasi didefinisikan sebagai proses di mana para pelakunya menciptakan informasi dan saling bertukar informasi tersebut untuk mencapai pengertian bersama.

10. Teori Kultivasi (Cultivation Theory)
Pernyataan Prabowo (2005, p.45) mengenai tinggi rendahnya kecemasan dipengaruhi oleh terpaan media, sejalan dengan yang dikemukakan oleh George Gerbner. Teori ini menyatakan bahwa dampak dari menonton tayangan televisi lebih besar berada pada sikap penonton daripadatataran perilaku atau kebiasaan mereka. Para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di dunia televisi itulah duniasenyatanya. Anak-anak yang sering menonton tayangan film kekerasan akan melihat dunia sebagai penuh dengan kekerasan (Nurudin, 2003, p.157). Bahkan, anak-anak yang merupakan heavy viewers akan cenderung memperlihatkan tanda kecemasan, trauma, dan stress pasca-trauma dibandingkan dengan low viewers(Navarro, n.d, p.1). Jika dihubungkan dengan Cultivaton Theory, maka seharusnya responden yang memiliki terpaan informasi yang tinggi mengenai bahaya HIV/AIDS akan merasa lebih cemas dibandingkan dengan responden yang tingkat terpaan informasinya rendah.

11. The Spiral Of Silence Theory
Asumsi : Pesan dari media besar cenderung mendominasi opini publik, pesan itu akan menjadi pembicaraan khalayak (Public Discourse) sementara bisa jadi ada pesan dari media lain yang berbeda dengan media besar tadi, tetapi karena pesan-pesan media besar telah menjadi opini publik, dan pengaruh itu demikian kuat di dalam benak khalayak, maka media-media kecil tadi cenderung utnuk meminimalisasi perbedaanya atau malah menjadi diam atau mendiamkan pesan-pesan itu (Public Discourse)
12. Social Learning Theory
Menjelaskan bahwa belajar adalah melalui sebuah pengamatan atau observasi, teori ini membantah bahwa belajar tidak melalui trial dan error. Tetapi melalui pengamatan, baik pengamatan langsung maupun tidak, yaitu melalui media seperti media massa, buku, dll.


Read more ...

Komunikasi Massa



1.    Pendahuluan

A.  Pengertian Komunikasi Massa
        Menurut Bittner Komunikasi Massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Jadi pada dasarnya komunikasi massa mengharuskan adanya media massa yang dapat menjangkau khalayak luas. Komunikasi massa bersifat satu arah, tidak langsung, terbuka kepada semua orang, pesan diterima secara serentak dan tersebar, maksudnya bahwa komunikan tidak berada dalam satu tempat melainkan tersebar di berbagai wilayah.

B.  Karakteristik Komunikasi Massa
•      Komunikator Terlembagakan
Berarti bahwa komunikasi massa malibatkan lembaga dan organisasi yang kompleks. Pesan yang akan disampaikan akan diproses oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu lembaga sebelum sampai ke komunikan.
•      Pesan Bersifat Umum
Komunikasi Massa bersifat terbuka yang berarti pesan yang disampaikan ditujukan untuk semua orang dan pesan bersifat umum.
•      Komunikan Bersifat Anonim dan Heterogen
Dalam komunkasi massa komunikator tidak mengenal komunikan (anonim) karena komunikasinya menggunakan media dan tidak bertatap muka. Selain itu komunikan bersifat heterogen karena terdiri dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda
•      Media Massa Menimbulkan Keserempakan
Jumlah sasaran atau khalayak yang dicapai banyak dan tidak terbatas. Komunikasi terjalin secara bersamaan sehingga komunikan pada waktu yang bersamaan menerima pesan yang sama.
•      Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
Komunikasi memiliki dimensi isi yang menunjukkan isi komunikasi dan dimensi hubungan yang menunjukkan bagaimana berkomunikasi. Dalam komunikasi massa komunikator mementingkan isi dari pesan yang akan disampaikan karena komunikator tidak mengenal para komunikannya.
•      Bersifat Satu Arah
Dalam komunikasi massa tidak ada hubungan timbal balik seperti pada komunikasi interpersonal karena penggunaan media massa yang tidak memungkinkan adanya tanggapan dari para penerima pesan. Dalam hal ini komunikator mengendalikan arus informasi karena antara komunkator dan komunikan tidak bertatap muka secara langsung.
•      Stimuli (Rangsang) Alat Indra Terbatas
Pada komunikasi massa stimuli alat indra tergantung pada jenis media massa yang digunakan. Contohnya seperti radio maka komunikan hanya akan dapat mendengar pesan yang disampaikan dalam hal ini penerima pesan hanya menggunakan indra pendengar mereka untuk menangkap maksud komunikator.
•      Feedback Delayed and Indirect
Umpan Balik (feedback) tertunda (delayed) karena membutuhkan waktu untuk sampai kepada komunikator sedangkan bersifat tidak langsung (indirect) karena komunikasi menggunakan media massa yang tidak memungkinkan untuk menerima umpan balik secara langsung.

C.  Peranan Komunikasi Massa
        Melalui komunikasi massa seseorang dapat mengetahui berbagai macam informasi. Maka, tidak heran apabila masyarakat sekarang sangat tergantung pada komunikasi massa untuk mengetahui kondisi ataupun berita yang sedang berlangsung karena sifat manusia yang selalu haus akan informasi.

D.  Fungsi Komunikasi Massa Bagi Masyarakat
•      Fungsi Komunikasi Massa menurut Dominick (2002):
1)   Pengawasan (Surveillance): Fungsi pengawasan dibagi menjadi 2 yaitu : warning or beware surveillance yaitu ketika terjadi ancaman seperti bencana alam, dll maka media akan melakukan fungsi peringatan kepada masyarakat. Dan instrumental surveillance adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan untuk membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.
2)   Penafsiran (Interpretation): Media massa memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting dengan tujuan mengajak khalyak luas untuk memperluas wawasan.
3)   Pertalian (Linkage): Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat sehingga membentuk suatu pertalian berdasarkan kesamaan kepantingan dan minat.
4)   Penyebaran Nilai-Nilai (Transmission of Values): Disebut juga dengan sosialisasi (sosialization) yaitu cara seseorang mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa berperan dalam menyebarkan nilai-nilai kepada masyarakat. Melalui nilai-nilai tersebut perilaku dan kepribadian seseorang dapat berubah seperti yang disampaikan oleh media.
5)   Hiburan (Entertainment)

•      Fungsi Komunikasi Massa menurut Effendy (1993)
1)   Fungsi Informasi: media massa adalah penyebar informasi yang paling dibutuhkan karena keakuratan, kecepatan penyebaran dan tidak terbatas.
2)   Fungsi Pendidikan: Media massa merupakan sarana yang efektif untuk mendidik para khalayaknya melalui penyebaran nilai, etika dan aturan.
3)   Fungsi Mempengaruhi: Media massa dapat mempengaruhi khalayak.

•      Fungsi Komunikasi Massa menurut DeVito (1996)
1)   Fungi Meyakinkan (to persuade): ada 4 fungsi meyakinkan yaitu mengukuhkan, mengubah, menggerakkan dan menawarkan etika.
?  Mengukuhkan, adalah suatu usaha untuk mengubah atau mempertahankan sikap dan kepercayaan khalayak sebagai upaya agar mereka bertindak dengan cara tertentu.
?  Mengubah, yaitu usaha media untuk mengubah khalayak yang tidak memihak pada suatu permasalahan tertentu menjadi condong ke salah satu sisi.
?  Menggerakkan, media berusaha mengajak pembaca atau pemirsa untuk membentuk suatu sikap dan mengendalikan sikap tersebut ke arah tertentu.
?  Menawarkan Etika, Mengungkapkan penyimpangan-penyimpangan tertentu sehingga merangsang masyarakat untuk mengubah situasi.
2)   Fungsi Menganugerahkan Status: Terjadi apabila berita yang disebarkan melaporkan kegiatan individu sehingga dapat meningkatkan prestise (gengsi) mereka. Komunikasi Massa juga memiliki fungsi untuk memberi atau meperkuat kontro sosial di masyarakat.
3)   Fungsi Membius (Narcotization): Media menyajikan informasi kepada khalayak yang dapat mempengaruhi dan percaya bahwa suatu tindakan harus diambil untuk menanggapi kasus atau berita tersebut.
4)   Fungsi Menciptakan Rasa Kebersatuan: Komunikasi massa mampu membuat seseorang merasa menjadi anggota atau bagian dari suatu kelompok.
5)   Fungsi Privatisasi: Berlimpahnya informasi dapat membuat seseorang menarik diri dari pergaulan.

E.   Bagaimana Orang Menggunakan Media Massa
Terdapat 4 alasan penggunaan media massa antara lain:
•      Pengetahuan (Cognition): Seseorang menggunakan media massa untuk memperoleh pengetehuan atau informasi.
•      Hiburan (Diversion): Media massa sering digunakan sebagai sarana hiburan masyarakat.
•      Kepentingan Sosial (Social Utility): Melalui media, seseorang dapat memperoleh kembali hubungan sosial melalui pembicaraan atau diskusi mengenai suatu informasi yang berasal dari media massa.
•      Pelarian (Withdrawal): Media massa digunakan sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi atau untuk menghindari aktivitas lain.
Read more ...

Proses Komunikasi Massa



A.  Pengertian
        Proses merupakan suatu peristiwa yang berlangsung secara kontinyu. Komunikasi massa memerlukan media sebagai penghubung maka, proses komunikasi massa tersebut terdapat pada penggunaan media sebagai alat berkomunikasi. Terdapat 5 unsur dalam proses komunkasi menurut Lasswell yaitu:
Who    Says What    In Which Channel    To Whom    With What Effect
Komunikator    Pesan yang disampaikan    Media/saluran yang digunakan untuk berkomunikasi    Penerima atau komunikan    Efek/hasil yang dicapai dari usaha penyampaian pesan




B.  Komponen Komunikasi Massa
Dalam komunikasi terdapat komponen-komponen yang harus diperhatikan yaitu:
•      Komunikator (Communicator)
        Komunikator dalam komunikasi massa berbeda dengan komunikator pada komunikasi interpersonal. Perbedaannya terletak pada pengiriman pesan. Dalam komunikasi interpersonal, komunikator dapat langsung mengirimkan pesan kepeda komunikan namun dalam komunikasi massa pengirim pesan merupakan institusi atau lembaga yang bekerja sama agar pesan dapat sampai kepada komunikan.
        Menurut Hiebert, Ungurait dan Bohn komunikator memiliki 3 sifat yaitu costliness yang berarti setiap pesan yang disampaikan kepada komunikan membutuhkan biaya. Complexity, sebelum pesan dapat dinikmati terdapat proses atau alur yang panjang yang melibatkan banyak orang di dalamnya. Compertiveness, adanya kompetisi yang terjadi antar media.
•      Codes and Content
        Codes adalah simbol yang digunakan sedangkan Content adalah isi atau makna dari sebuah pesan.
•      Gatekeeper
        Gatekeeper atau penjaga bertugas untuk menjaga agar media tidak kebobolan dalam menyampaikan berita. Sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan media tersebut.
•      Regulator
        Regulator berperan layaknya gatekeeper namun regulator berada di luar institusi media.
•      Media
•      Audiens (Audience) merupakan sasaran dari komunikasi massa.
•      Filter
        Filter atau penyaringan berguna untuk membendung arus informasi yang tidak sesuai dengan budaya dikarenakan banyaknya audiens dari media massa. Indaa manusia dapat digunakan sebagai filter namun penyaringan informasi dari masing-masing individu berbeda tergantung dari 3 aspek seperti budaya (cultural), tatanan psikologi (psychological) dan kondisi fisik (physical).
•      Umpan Balik (Feedback)
        Feedback merupakan tanggapan atau respons dari penerima pesan. Umpan balik dalam komunikasi massa berbeda dengan umpan balik yang terjadi pada komunikasi lain. Jika pada komunikasi lain umpan balik terjadi langsung saat komunikator berhadapan dengan komunikan, namun pada komunikasi massa, umpan balik terjadi secara tidak langsung dan membutuhkan waktu untuk sampai kepada komunikator.

C.  Efek Komunikasi Massa
        Media massa dengan banyaknya informasi yang diberikan memberikan pengaruh pada komunikan. Pengaruh atau efek tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kehadiran media massa memberikan pengaruh seperti efek ekonomi, efek sosial, penjadwalan sehari-hari, efek hilangnya perasaan tidak nyaman dan efek menumbuhkan perasaan tertentu.
        Pesan yang disampaikan tak luput juga dapat memberi pengaruh yaitu efek kognitif atau efek yang bersifat informatif bagi komunikan. Efek afektif yang menyebabkan seseorang dapat merasakan suasana emosional sebagai akibat yang ditimbulkan media massa. Efek behavioral merupakan akibat yang timbul dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.
Read more ...

Hambatan Dalam Komunikasi Massa



A.  Hambatan Psikologis
•      Perbedaan Kepentingan (Interest)
        Kepentingan membuat seseorang selektif dalam menanggapi pesan dan hanya akan memperhatikan rangsangan yang berhubungan dengan kepentingan tersebut. Dalam hal ini kepentingan jiga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran serta tingkah laku seseorang. Dalam komunikasi massa yang komunikannya heterogen, maka terdapat perbedaan kepentingan antara satu individu dengan individu lain. Perbedaan ini terjadi karena adanya heterogenitas komunikan yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dll.
•      Prasangka (Prejudice)
        Prasangka berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap individu maupun kelompok dan merupakan jenis sikap yang secara sosial sangat merusak.
•      Stereotip (Stereotype)
        Stereotip merupakan gambaran tertentu mengenai sifat dan watak pribadi atau kelompok yang bercorak negatif. Stereotip terbentuk karena adanya prasangka.
•      Motivasi (Motivation)
        Seluruh tingkah laku manusia didorong karena adanya motif tertentu. Motif merupakan pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan maupun dorongan dalam diri mansia yang menyebabkannya berbuat sesuatu.

B.  Hambatan Sosio Kultural
Hambatan ini terjadi karena adanya beberapa faktor yaitu:
1)   Adanya perbedaan etnis dan budaya,
2)   Perbedaan norma atau aturan sosial,
3)   Ketidakmampuan dalam berbahasa Indonesia,
4)   Adanya hambatan mengenai bahasa (faktor semantik) yang menyebabkan perbedaan maksud antara komunikator dengan komunikan,
5)   Pendidikan yang belum merata,
6)   Hambatan mekanis sebagai akibat dari penggunaan media massa.

C.  Hambatan Interaksi Verbal
•      Polarisasi, adalah kecenderungan untuk melihat dunia dalam bentuk lawan kaat dan menguaikannya dalam bentuk ekstrem.
•      Orientasi Internasional (International Orientation), mengacu pada kecenderungan seseorang untuk melihat manusia, objek dan kejadian sesuai dengan ciri yang melekat pada mereka. Dalam komunkasi massa orientasi internasional dilakukan oleh komunikan terhadap komunikator.
•      Evaluasi Statis, evaluasi yang diberikan komunikan kepada komunikator bersifat statis dan tidak berubah.
•      Indiskriminasi (Indiscrimination), merupakan inti dari stereotip. Terjadi apabila komunikan memusatkan perhatian pada kelompok orang, benda atau kejadian dan tidak mampu melihat bahwa masing-masing bersifat unik, khas dan perlu diamati secara individual.
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates