“Timbangan pada
hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan
kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang
ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri, disebabkan meraka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS. Al-‘Araaf :
8-9)
Di antara sifat
mulia yang dimiliki Allah Ta’ala adalah Al-‘Adl yang bermakna Maha Adil.
Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Keadilan Allah
SWT bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apapun dan oleh siapapun. Keadilan
Allah Ta’ala juga didasari dengan ilmu pengetahuan-Nya yang Maha Luas, sehingga
tidak mungkin keputusan-Nya itu salah, Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,
dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun
pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji
pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah dan yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (QS. Al-An’am : 59)
Dalam redaksi
ayat yang lain disebutkan Maha adilnya Allah Ta’ala sangatlah mendetail
penghisaban amalan setiap hamba-hamba-Nya, sehingga tiada satupun butiran
kebaikan maupun keburukan melainkan ada balasan setimpal dan tiada kedzaliman
didalamnya. Firman Allah Ta’ala: “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu
kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang
(tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah
ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan
ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada
(tertulis). Dan Rabbmu tidak mendzalimi seorang pun”. (QS. Al-Kahfi : 49)
Mentadaburi sifat
Maha adil-nya Allah Ta’ala yang mutlak, keadil-Nya kian termaknai pada
perhitungan amal hari kiamat nanti. Terdapat banyak sekali gambaran Maha Adil
Allah Ta’ala yang disuguhlan baik dalam firman suci-Nya ataupun dalam sunnah
rasul-Nya yang mulia, salah satunya keterangan yang menegaskan akan
ditegakkannya hukum qisas yang seadil-adilnya di antara kalangan binatang,
karena sungguh Allah Ta’ala tidak akan pernah mentolerir kedhaliman sekecil
apapun bilamana terjadi di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya, meski kepada
hewan atau binatang sekalipun, dan sungguh mereka akan mendapati keputusan
Allah Ta’ala seadil-adilnya. Allah SWT berfirman :”Dan tiadalah
binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua
sayapnya, melainkan uamt-umat (juga) sepertimu. Tiadalah Kami lupakan sesuatu
apapun di dalam Al-Kitab kemudian kepada Rabb-lah mereka dihimpun.” (QS.
Al-An’aam : 38)
Fakta yang
menarik mesti kita cermati pula, bahwa sesungguhnya makhluk pertama kali
diadili oleh Allah Ta’ala adalah binatang, bukan manusia maupun jin. Allah
Ta’ala berfiman : “Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (yakni
dikumpulkan di hari kiamat untuk diadili)”. (QS. At-Takwir : 5). Syaikh
Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “pada hari kiamat
kelak seluruh binatang akan dikumpulkan, sedangkan manusia menyaksikannya.
Kemudian binatang-binatang diadili, sehingga binatang yang tidak bertanduk akan
menuntut balas terhadap binatang yang bertanduk yang telah menanduknya di
dunia. Setelah binatang tersebut diqishash dan mereka mendapati keputusan
seadil-adilnya, Allah Ta’ala selanjutnya mengubah seluruh hewan menjadi tanah.
Semua ini Allah Ta’ala lakukan demu tegaknya keadilan di antara makhluk-Nya.”
(Tafsir Juz ‘Amma, hal. 70).
Sesungguhnya ketika proses hisab kepada seluruh hewan ini
dilaksanakan, seluruh proses perhitungan dan pembalasan amal disaksikan oleh
para malaikat, begitu juga orang-orang yang beriman sampai dengan orang kafir.
Hingga setelah seluruh binatang diadili dan mendapatkan haknya masing-masing,
Allah Ta’ala kemudian berfirman: “Jadilah kalian tanah!,” seketika itu juga
binatang-binatang itu berubah menjadi tanah, dan tatkala melihat hewan itu
diubah menjadi tanah, seluruh orang-orang kafir berharap ingin seperti hewan
yang menjadi tanah guna terhindar dari siksa neraka dan balasan Allah Ta’ala
yang pedih, dan orang kafir itu mengatakan keinginan hatinya, “Alangkah baiknya
jika aku menjadi tanah”. Harapan orang kafir yang sia-sia ini Allah Ta’ala
abadikan dalam firman-Nya: “Dan orang kafir itu berkata, “Alangkah baiknya
sekiranya aku menjadi tanah saja”. (QS. An-Naba:40)
Sungguh bilamana peradilan di mahkamah Allah Ta’ala
ditegakkan kepada seluruh makhluk sebangsa binatang, lantas bagaimana keadaanya
dengan kita selaku manusia yang mana janji kenikmatan surga ataupun dahsyatnya
siksa neraka merupakan satu janji yang pasti sebagai balasan atas baik buruknya
amalan kita, tentu penghisaban Allah Ta’ala serta keputusan-Nya yang Maha adil
tiada akan pernah luput begitu saja dari kita semua. Diriwayatkan dari
‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam
bersabda: “Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang
terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh
tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan
Allah”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan ath-Thabrani. Hadist ini
dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih at-Targhib wat-Tarhib no 3591)
Saudaraku seiman, sungguh peristiwa mahkamah ilahi di padang Mahsyar sangatlah
dahsyat. Di hari itu, Allah Ta’ala mengumpulkan seluruh makhluknya, yang
pertama sampai terakhir di satu tanah luas yang datar, dari mulai binatang, jin
serta manusia, dan sungguh manusia yang berdosa benar-benar mengalami kesusahan
dan kesedihan yang nyata..
Wa Allahu a’lam bisshowab.
Penulis : Ridwan, Lc, M.Pd I
#azzayyan
#azzayyan
No comments :
Post a Comment